Senin, 10 Agustus 2009

ANDA INGIN MENULIS BUKU BEST SELLER? INI BUKUNYA!


Mengapa memilih profesi sebagai penulis? Pertanyaan ini seringkali membuat orang bertanya-tanya. Apalagi bagi yang belum mengenal seluk beluk profesi tulis menulis secara dalam, berbeda dengan yang sudah memahaminya. Ia pasti mengetahui berbagai peluang seperti :

· Banyaknya penerbit yang akan menampung karya-karyanya.

· Adanya peluang pasar yang menggiurkan karena APBN untuk pendidikan yang tidak tanggung-tanggung yaitu sebesar 20%.

· Kegiatan menulis bisa flexi-time sebab bisa dilakukan dimana saja baik di rumah, diperjalanan atau di kantor.

· Target penerbit akan buku baru juga kian tahun kian meningkat dan kesempatan mendapatkan penghasilan luar biasa bisa dibuktikan.

Buku ”Cara mudah menulis buku best seller?” sangat menarik karena membahas antara lain:

1. Bagaimana mengawali menulis.

2. Bagaimana mendesain naskah 100 halaman.

3. Bagaimana membuat kerangka menggunakan Mind Map & tabel benda acak

4. Bagaimana memvariasi naskah dengan Table Leonardo Davinci.

5. Bagaimana memilih judul dan sub judul buku best seller.

6. Bagaimana memasarkan naskah dan menerbitkan buku best seller.

Minggu, 14 Juni 2009

BUKU BARU "EASY MARKETING"


U UKM atau Usaha kecil dan menengah, kini banyak menjadi perhatian para pebisnis karena terbukti dan teruji tidak mudah dilindas badai krisis. Menjelang era reformasi yang ditandai dengan krisis moneter, ada data yang menarik. Diantara 225 ribu UKM, 64% bertahan omzetnya, 32% menurun, dan 4% gulung tikar. Sementara banyak perusahaan besar justru bertumbangan. Logislah kalau UKM banyak dilirik sebagai alternatif usaha. Terlebih lagi dalam kondisi krisis global seperti sekarang ini.
Problem terpelik guna mempertahankan, bahkan menaikan omzet UKM, adalah masalah penjualan. Memproduksi tapi tidak mampu menjual, pastilah timpang serta mengganggu cash flow (arus keuangan). Lantas apa solusinya? Mendesain ulang pemasaran produk adalah kuncinya, disamping mendesain pengelolaan piutang pasar guna meraih kemampulabaan menuju perusahaan besar.
Buku yang mengupas seputar masalah usaha kecil dan menengah, ini teramat sayang untuk dilewatkan bagi pelaku UKM, mereka yang tengah merintis UKM, atau yang lagi mengembangkan UKM menjadi perusahaan besar. Penting pula menjadi refrensi mahasiswa dan dosen bidang manajemen, praktisi bisnis, serta pengamat dunia bisnis.

Sabtu, 28 Februari 2009

BUKU BARU "GRESS"BOOSTING SALES PROMOTION GIRL PERFORMANCE

Kondisi pemasaran produk sekarang ini sudah tidak kompetitif lagi, tetapi sudah hyperkompetitif sehingga kedudukan produk di rak modern market terancam oleh aktivitas Sales Promotion Girl (SPG) pesaing. Kini, keberadaan SPG selain mengedukasi konsumen, ternyata membantu dalam proses selling, yaitu memproses PO (purchase oder) dan dikirimkan ke salesman. Selain itu SPG juga dibutuhkan karena terbatasnya space di store-store potensial, maka selain berpromosi ia juga mengelola rak hingga menimbulkan impulse buying.
Namun sayangnya keberadaan SPG di store, direct selling atau di acara event masih belum dipercaya menunjang penjualan. Apa yang harus dilakukan oleh pemasar? Salah satunya adalah meningkatkan performance SPG. Buku ini akan membantu banyak pembaca, karena berisi langkah-langkah bagaimana meningkatkan performance SPG, seperti : Rekrut SPG dengan benar agar turn over tidak tinggi, tentukan Job description dan pola kerja dengan benar, tentukan tali komando dengan benar, membuat strategi dan rencana penempatan SPG, memberikan material pendukung seperti point of sales, strategi merchandising, pengetahuan dan training yang harus diberikan, menemukan indicator performance dan mengevaluasinya, serta membahas laporan serta format apa saja yang di butuhkan SPG.
Buku ini sangat penting dibaca calon pekerja di bidang promosi, Creatif Director, Manager advertising, Event organizer manager, Agency (outsourching) manager, Sales manager, Marketing manager, Sales supervisor, Supervisor marketing, Salesman, Merchandiser dan SPG. Serta Dosen dan Mahasiswa dalam menambah kelengkapan literatur pelajaran pemasaran. *** 137 Hal. Penerbit Elexmedia Kompuntindo. Rp 29.800,-. Bagi yang di kota-kota tidak ada toko buku Gramedia bisa pesan langsung. Hub 0818521172.

Jumat, 27 Februari 2009

ACCOUNT RECEIVABLE SALES FORCE

Penjualan produk yang berhasil di pasar belum tentu berhasil secara keuangan. Bahkan banyak sekali marketer melupakan bagian ini. Mengapa bisa terjadi demikian? Beberapa sebabnya adalah adanya pengelolaan keuangan penjualan yang buruk, tidak ada aturan main yang jelas mengenai jangka waktu pembayaran dan penyelesaian piutang serta sangsi dan tanggung jawab sales force, kurang kontrol dan adanya penyelewengan yang dilakukan oleh sales force maupun pelanggan. Apa yang harus dilakukan perusahaan?
Pada buku ajaib ini akan ditemukan rahasia-rahasia bagaimana mengelola piutang penjualan dengan baik dan benar, antara lain: melakukan pencatatan transaksi penjualan dengan benar, melakukan standar diskon dan return, membuat file fisik piutang penjualan secara akurat, menetapkan strategi pengelolaan piutang menggunakan rute perjalanan, melakukan negosiasi dan mengetahui isyarat bahasa tubuh pelanggan yang berbohong, memasukan piutang penjualan sebagai indikator performance dan insentif salesman, melakukan audit piutang penjualan di kantor dan di lapangan, bagaimana menetapkan aturan main serta tanggung jawab sales force terhadap piutang penjualan bad debt sampai dengan melakukan shock terapi terhadap perilaku menyimpang SDM penjualan, mengatasi sampai tuntas piutang penjualan bermasalah dan bagaimana menetapkan status piutang penjualan sebagai piutang bed debt.
Buku ini sangat cocok bagi salesman, collector, sales manager, owner distributor dan supplier, marketer pada umumnya, para dosen dan mahasiswa yang mendalami piutang penjualan sebagai bagian yang berkaitan dengan kegiatan pemasaran produk. *** Tebal buku 190 halaman. Terbitan Elexmedia Kompuntindo. HARGA BUKU Rp 39.800,- (Belum termasuk Ongkos kirim) Pesan ke : 0818521172

KOMENTAR BUKU " ACCOUNT RECEIVABLE SALES FORCE" DARI PEMBACA

" Selamat sore pak Frans, saya mau mengucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya karena buku yang bapak tulis telah membantu saya dalam distribusi dan manajemen perusahaan. terima kasih." Benny - Medan. Distributor rokok.

"Selamat sore pak Frans. Saya sedang menikmati buku Account receivable Sales Force. Buku yang sangat membumi." salam Kenal. William Tanujaya. Tong tji. Semarang.

MALL MARKETING

Sekarang ini di berbagai kota besar telah bermunculan Mall. Misalnya di Surabaya, Jakarta, Bandung, Palembang, Makasar, Denpasar atau kota besar lainnya. Selain kota Surabaya dan Jakarta, kemunculan Mall akan disambut dengan antusias oleh warga kota karena baru satu atau dua Mall saja sudah menggairahkan pengunjung. Namun berbeda dengan kota Surabaya dan Jakarta yang sudah banyak Mall-nya? Persoalan ini tentunya akan menjadi dilema. Mall yang muncul belakangan sesuai surveinya belum tentu seramai Mall yang sudah exis, sehingga banyak sekali tenant dan investor yang mengeluh, terutama jika sempoa-nya menjurus pada ROI (Return on investment). Selain itu Mall lama juga akan mengalami problem jika ada Mall lain yang lebih menarik dan lokasinya berdekatan, sehingga sesuai dengan surveinya, Mall yang pertama kali berdiri juga mengalami problem dengan berkurangnya pengunjung.
Menghadapi situasi dan kondisi seperti ini akhirnya pengelola Mall baru berpikir keras, bagaimana caranya agar Mall yang baru dibangun itu bisa ramai oleh pengunjung. Serta ini tidak mudah apalagi jika Mall yang didirikan stand-stand-nya dibeli oleh 70% investor, dan 30% pedagang. Siapa yang salah? Pedagang sih tanpa didorong-dorong sudah punya kesadaran untuk segera buka usahanya, sementara itu investor? Akan sulit karena mereka tidak berniat berdagang. Mereka hanya berniat untuk invetasi jangka panjang. Kalau begini pihak manajemen Mall harus bekerja ekstra keras untuk membantu para investor mencari penyewa. Tapi kalau Mall-nya sepi juga menjadi masalah karena pengontrak ogah menempati. Seperti lingkaran setan saja, situasi ini menjadi pelik bagi pihak manajemen pengelola Mall.
Apa yang mesti dilakukan oleh pihak marketing Mall kalau sudah seperti ini? Belajar dari pengelola Mall lain adalah salah satu upaya yang bisa dilakukan. Seperti mulai melakukan list terhadap stand investor dan kemudian menawarkan pada para pedagang di mall lain yang akan membuka cabang. Selain cara ini ditempuh, pemasar Mall juga mulai menggandeng para asosiasi baik asosiasi pedagang Hand phone, pedagang kerajinan, pedagang garment dan asesories serta lainnya agar bisa menempati satand-satand kosong di lantai-lantai Mall. Menggandeng berbagai event organizer, bekerja sama dengan berbagai perusahaan, bekerja sama dengan berbagai sekolah mulai Tk sampai dengan universitas, bekerja sama dengan Gereja, serta lembaga-kembaga lain yang semuanya memiliki tujuan agar terjadi kegiatan di Mall, sehingga secara tidak langsung perserta kegiatan bisa beraktivitas sambil belanja.
Kemudian bagaimana dengan pengelola Mall yang lama? Merekapun tidak ketinggalan memunculkan strategi jitunya, dan itu sesuai dengan kemampuan tenaga dalamnya, seperti mengadakan Festival shopping berhadiah dengan cara menggandeng pihak tenant untuk melaksanakan festival itu. Bahkan penyelenggaraan Festival Mall ini dilakukan serentak di seluruh Mall yang ada, misalnya di Surabaya beberapa waktu yang lalu. Mekanismenya setiap tenant akan menerbitkan kupon untuk pembelian semua produk dengan jumlah tertentu, kupon kemudian diundi. Dan yang paling menakjubkan bahwa kupon yang diundi itu akan mendapatkan hadiah yang super menarik seperti mendapatkan hadiah mobil, rumah, sepeda motor maupun barang-barang menarik lainnya.
Management mall juga membuat kejutan-kejutan lain, dengan membuat festival itu tambah menarik, seperti mengundang berbagai perusahaan untuk memunculkan berbagai event yang bisa mengundang kehadiran orang banyak. Misalnya saja perusahaan sepeda motor, perusahaan rokok, makanan dan minuman akan mengadakan berbagai pertunjukan seperti musik dan mengundang bintang film atau penyanyi, atau demonstrasi disertai dengan musik, serta kegiatan menarik pengunjung lainnya. Selain itu para event organizer hadir dengan berbagai lomba seperti menggambar, fashion show anak-anak, lomba menyanyi, lomba Cak dan Ning Surabaya, None dan Abang Jakarta, dengan disertai pameran dan bazar multi produk dari berbagai perusahaan. Lomba-lomba itu juga dilakukan berbagai sekolah mulai TK sampai dengan universitas, sehingga Mall menjadi sesak selain oleh anak-anak, para remaja dan juga orang tua mereka.
Kalau kembali lagi pada filosofi belanja orang indonesia yaitu refreshing dan sophing, maka para marketer sebaiknya dapat menangkap aktivitas kegiatan yang dilakukan oleh manajemen mall tersebut. Munculnya para pengunjung ke Mall yang besar akan menjadi target market para pemasar. Tentunya para pemasar dapat membidik mereka sebagai konsumen yang tadinya tidak tahu dengan produk perusahaan akhirnya menjadi tahu. Apalagi jika pemasar sudah berlari kencang untuk melakukan bloking disetiap lantai Mall yang mengadakan event, seperti bekerja sama dengan berbagai tenant untuk mencetakan kupon pembelian berlogo brand perusahaan, membuka space produk dengan mendirikan mini kios dan menyebar SPG untuk memperkenalkan produk. Tentunya kegiatan ini sangat menarik dan akan menguntungkan di segi aktivitas promosi dan penjualan.
Kalau sebelumnya team promosi below the line selalu turun kejalanan di berbagai tempat yang dicarinya, kenapa tidak pindah ke Mall. Selain dapat memperkenalkan produk, tentunya brand image produk akan terangkat dengan nama Mall yang menjadi sasaran bidik. Maka tidaklah perlu bersusah paya menciptakan event sendiri, menempel pada event yang ada di Mall, perusahaan yang tadinya harus keluar biaya banyak untuk jalan terus, dengan adanya strategi marketing di berbagai Mall, perusahaan dapat diuntungkan, baik di sisi brand dan di sisi aktivitas promosi dan penjualan. Bagaimana menurut pendapat anda?